Monday, October 10, 2011

rpp olahraga


RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

Nama sekolah          :
Mata Pelajaran         :  Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan
Kelas/Semester         :  
Pertemuan Ke          :  ……………….……………….……………….
Alokasi Waktu         :  …..……………….……………….……………

A.    Kompetensi Dasar
1.1        Mempraktikkan keterampilan bermain salah satu permainan dan olahraga beregu bola besar serta nilai kerjasama, kejujuran, menghargai semangat dan percaya diri.

B.     Indikator
-          Mengenal bola
-          Menendang bola
-          Menghentikan bola / mengontrol bola
-          Menggiring bola
-          Melempar bola
-          Bermain sepak bola secara sederhana

C.    Materi Pokok
Teknik Dasar Bermain Sepak Bola

D.    Skenario Pembelajaran

No
Kegiatan
Alokasi Waktu
Metode
1.
Pendahuluan
Peserta didik dibariskan menjadi 4 saf, berdo’a bersama, diadakan presensi serta penjelasan materi yang akan dibahas serta dilanjutkan pemanasan.

10 menit

Ceramah
Demonstrasi
Tugas
2.
Inti
-      Teknik mengenal bola dilakukan dengan cara menggulir-gulirkan bola, menimang-nimang bola
-      Teknik menendang bola dengan menggunakan kaki bagian dalam, punggung kaki bagian luar
-      Teknik menghentikan / mengontrol bola dengan menggunakan kaki bagian dalam punggung kakai dan kaki bagian luar.
-      Teknik melempar bola dilakukan dengan cara :
a. berdiri diluar garis samping
b.bola dipegang dengan dua tangan dari atas belakang kepala
c. badan ditarik ke belakang diteruskan dengan mengayunkan kedua tangan ke depan (menggunakan kekuatan otot perut, panggul, bahu dan tangan)
-      teknik bermain bola secara sederhana


60 menit

Ceramah
Demonstrasi
Tugas
3.
Penutup
-      Peserta didik dibariskan, diadakan koreksi / evaluasi terhadap kegiatan yang baru dipratekkan.
-      Informasi-informasi

20 menit

Ceramah
Diskusi




E.     Media / Alat
Buku : Pendidikan Jasmani Teori dan Praktek oleh Muhajir
Alat  :  Lapangan sepak bola, bola kaki, peluit

F.     Evaluasi
Penilaian dilakukan dengan pengamatan langsung terhadap kegiatan yang dilakukan peserta didik.




Kepala MA PPMI Assalaam


Sigit Rahardja, S.Si
Sukoharjo, 01 Juni 2007
Guru Mapel


____________________
NIP.


RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

Nama Madrasah       : MA PPMI Assalaam
Mata Pelajaran         :  Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan
Kelas/Semester         :  X / 1
Pertemuan Ke          :  ……………….……………….……………….
Alokasi Waktu         :  …..……………….……………….……………


A.    Kompetensi Dasar
1.1        Mempraktikkan keterampilan bermain salah satu permainan dan olahraga beregu bola besar, serta nilai kerjasama, kejujuran, menghargai semangat dan percaya diri.

B.     Indikator
-          Melakukan passing bawah
-          Melakukan passing atas
-          Melakukan servis bawah
-          Bermain bola voli secara sederhana

C.    Materi Pokok
Teknik Dasar Bermain Bola Voli

D.    Skenario Pembelajaran
No
Kegiatan
Alokasi Waktu
Metode
1.
Pendahuluan
Peserta didik dibariskan menjadi 4 saf, berdo’a bersama, diadakan presensi dan penjelasan materi secara singkat diteruskan pemanasan.

10 menit

Ceramah
Demonstrasi
Tugas
2.
Inti
-      Peserta didik masih dalam formasi 4 saf, tetapi dibuat saling berhadapan untuk melakukan latihan :
a.       Passing bawah
b.      Passing atas
c.       Servis bawah
Setelah melakukan latihan tersebut diatas dirasa cukup diteruskan bermain bola voli dengan menggunakan peraturan yang sederhana

60 menit

Ceramah
Demonstrasi
Tugas
3.
Penutup
-      Peserta didik dibariskan, diadakan evaluasi / koreksi terhadap kegiatan yang baru saja dipratekkan.
-      Informasi-informasi

20 menit

Ceramah
Diskusi

E.     Media / Alat
Buku :  Pendidikan Jasmani Teori dan Praktek oleh : Muhajir
Alat  : Lapangan bola voli, bola voli, net voli, peluit

F.     Evaluasi
Penilaian dengan menggunakan tes perbuatan








Guru Mapel


____________________
NIP.


RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
1
Nama sekolah          :
Mata Pelajaran         :  Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan
Kelas/Semester         :  
Pertemuan Ke          :  ……………….……………….……………….
Alokasi Waktu         :  …..……………….……………….……………

A.    Kompetensi Dasar
1.1        Mempraktikkan keterampilan bermain salah satu permainan dan olahraga beregu bola besar, serta nilai kerjasama, kejujuran, menghargai semangat dan percaya diri.

B.     Indikator
-          Melakukan teknik operan dan menangkap bola setinggi dada
-          Melakukan teknik operan dan menangkap bola pantulan
-          Melakukan teknik operan dan menangkap bola atas
-          Melakukan teknik operan dan lemparan bola samping
-          Melakukan teknik dribbling
-          Bermain basket secara sederhana

C.    Materi Pokok
Teknik Dasar Bermain Bola Basket
D.    Skenario Pembelajaran
No
Kegiatan
Alokasi Waktu
Metode
1.
Pendahuluan
Peserta didik dibariskan menjadi 4 saf, berdo’a bersama, diadakan presensi dan penjelasan materi secara singkat dilanjutkan pemanasan (warming up)

10 menit

Ceramah
Demonstrasi
Tugas
2.
Inti
-      Peserta didik masih dalam formasi 4 saf, tetapi dibuat saling berhadapan untuk melakukan latihan :
a.       Lempar tangkap bola setinggi dada
b.      Lempar tangkap bola pantulan ke lantai
c.       Lempar tangkap bola operan dari samping
d.      Dribble sambil berjalan dan berlari
Setelah teknik tersebut diatas dirasa cukup dilakukan dengan bermain basket dengan menggunakan peraturan yang sederhana

60 menit

Ceramah
Demonstrasi
Tugas
3.
Penutup
-      Peserta didik dibariskan, diadakan koreksi terhadap kegiatan yang baru saja dipratekkan.
-      Informasi-informasi

20 menit

Ceramah
Diskusi

E.     Media / Alat
Buku :  Pendidikan Jasmani Teori dan Praktek oleh : Muhajir
Alat  : Lapangan basket, bola basket, peluit
F.     Evaluasi
Penilaian dilakukan dengan menggunakan tes perbuatan








Guru Mapel


____________________
NIP.


RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

Nama sekolah      :
Mata Pelajaran         :  Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan
Kelas/Semester         :  X / 1
Pertemuan Ke          :  ……………….……………….……………….
Alokasi Waktu         :  …..……………….……………….……………

A.    Kompetensi Dasar
1.2        Mempraktikkan keterampilan bermain salah satu permainan olahraga beregu bola kecil dengan menggunakan alat dan peraturan yang dimodifikasi, serta nilai kerjasama, kejujuran, menghargai, semangat dan percaya diri.

B.     Indikator
-          Melakukan teknik melambungkan bola
-          Melakukan teknik melempar bola dengan benar
-          Melakukan teknik menangkap bola dengan benar
-          Melakukan teknik memukul bola
-          Bermain rounders dengan peraturan yang dimodifikasi

C.    Materi Pokok
Teknik Dasar Bermain Rounders

D.    Skenario Pembelajaran
No
Kegiatan
Alokasi Waktu
Metode
1.
Pendahuluan
Peserta didik dibariskan menjadi 4 saf, berdo’a bersama, diadakan presensi dan penjelasan materi secara singkat diteruskan dengan pemanasan.

10 menit

Ceramah
Demonstrasi
Tugas
2.
Inti
-      Peserta didik masih tetap menjadi 4 saf, saling berhadapan untuk melakukan :
a.       Lempar tangkap bola melambung
b.      Lempar tangkap bola datar
c.       Lempar tangkap bola menggelinding
d.      Teknik memukul bola
e.       Bermain rounders dengan peraturan yang dimodifikasi

60 menit

Ceramah
Demonstrasi
Tugas
3.
Penutup
-      Peserta didik dibariskan, diadakan koreksi kegiatan yang telah dipratekkan.
-      Informasi-informasi

20 menit

Ceramah
Diskusi

E.     Media / Alat
Buku :  Petunjuk Permainan Tradisional oleh UNS
Alat  : Stick (alat pemukul Rounders), bola rounders, tempat hinggap

F.     Evaluasi
Penilaian dilakukan dengan tes perbuatan



Guru Mapel


____________________
NIP.


RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

Nama Madrasah       : MA PPMI Assalaam
Mata Pelajaran         :  Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan
Kelas/Semester         :  X / 1
Pertemuan Ke          :  ……………….……………….……………….
Alokasi Waktu         :  …..……………….……………….……………


A.    Kompetensi Dasar
1.3        Mempraktikkan keterampilan atletik dengan menggunakan peraturan yang dimodifikasi, serta nilai kerjasama, kejujuran, menghargai, semangat dan percaya diri.

B.     Indikator
-          Melakukan teknik start jongkok
-          Melakukan teknik teknik berlari
-          Melakukan teknik memasuki finish

C.    Materi Pokok
Lari Jarak Pendek

D.    Skenario Pembelajaran
No
Kegiatan
Alokasi Waktu
Metode
1.
Pendahuluan
Peserta didik dibariskan menjadi 4 saf, berdo’a bersama, diadakan presensi dan penjelasan materi yang akan dipraktekkan secara singkat diteruskan dengan pemanasan.

10 menit

Ceramah
Demonstrasi
Tugas
2.
Inti
-      Melakukan start jongkok
Macam-macam start jongkok :
a.       Start pendek
b.      Start menengah
c.       Start panjang
Cara melakukan :
d.      Sikap awal berdiri di belakang garis start, langkahkan kaki kiri ke depan, dan jari kaki lurus ke depan.
e. Letakkan jari-jari kaki belakang segaris dengan tumit kaki depan. Jarak antara kedua kaki satu tapak tangan (start pendek/ Bunch Start)
f. Jatuhkan badan ke depan dan letakkan jari0jari tangan di belakang garis start (membentuk huruf V terbalik). Sikap lengan lurus, berat badan hampir seluruhnya bertumpu pada kedua tangan.
g.Aba-aba siap, angkat panggul ke atas, sehingga pantat lebih tinggi dari pundak.
h.Aba-aba “Ya”, tolakan kaki pada balok start sekuat-kuatnya, lalu berlari secepat-cepatnya.
-      Teknik berlari, lari jarak pendek menapak menggunakan ujung kaki, mengangkat lutut tinggi, ayunan tangan mengikuti langkah kaki.
-      Teknik masuk finish dilakukan dengan tetap berlari tanpa mengurangi kecepatan, menyentuh finish dengan cara memiringkan bahu atau ambyuk.

60 menit

Ceramah
Demonstrasi
Tugas

No
Kegiatan
Alokasi Waktu
Metode
3.
Penutup
-      Peserta didik dibariskan, diadakan koreksi / evaluasi terhadap kegiatan yang baru saja dipratekkan.
-      Informasi-informasi


20 menit

Ceramah
Diskusi


E.     Media / Alat
Buku :  Pendidikan Jasmani dan Kesehatan oleh : Drs. Yanto Kusyanto
Alat  : Lapangan, balok start, bendera start, stop watch, peluit

F.     Evaluasi
Penilaian dilakukan dengan menggunakan tes perbuatan




Kepala MA PPMI Assalaam



Sigit Rahardja, S.Si
Sukoharjo, 01 Juni 2007
Guru Mapel



____________________
NIP.


RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)


Nama Madrasah       :
Mata Pelajaran         :  Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan
Kelas/Semester         :  X / 1
Pertemuan Ke          :  ……………….……………….……………….
Alokasi Waktu         :  …..……………….……………….……………


A.    Kompetensi Dasar
1.4        Mempraktikkan keterampilan salah satu cabang olahraga beladiri, serta nilai kejujuran, menghargai orang lain, kerja keras dan percaya diri.

B.     Indikator
-          Melakukan sikap pasang dengan benar
-          Melakukan berbagai teknik pukulan dengan baik
-          Melakukan berbagai teknik tendangan

C.    Materi Pokok
Teknik Dasar Pencak Silat

D.    Skenario Pembelajaran
No
Kegiatan
Alokasi Waktu
Metode
1.
Pendahuluan
Peserta didik dibariskan menjadi 4 saf, berdo’a bersama, diadakan presensi dan penjelasan materi secara singkat dilanjutkan dengan pemanasan.

10 menit

Ceramah
Demonstrasi
Tugas
2.
Inti
Masih dalam formasi 4 saf diteruskan latihan :
-      Sikap pasang adalah suatu sikap siaga untuk melakukan pembelaan atau serangan yang berpola dan dilakukan pada awal serta akhir dari rangkaian gerak. Unsur sikap pasang : sikap kuda-kuda, sikap tubuh, sikap lengan dan sikap tangan.
-      Latihan teknik pukulan dari depan
a. Tinju dilakukan dengan cara tangan dikepalkan
b.Tebak dilakukan dengan menggunkan satu telapak tangan
c. Sodok dilakukan menggunakan telapak tangan terlentang
d.         Bandul dilakukan dengan mengayun kepalan
-      Latihan teknik pukulan dari arah bawah
a. Bandul dilakukan seperti upper cut dalam tinju
b.Sanggah dilakukan menggunakan pangkal telapak tangan
c. Colok / tusuk dilakukan menggunakan jari-jari terbuka
-      Teknik tendangan dapat dilakukan dari arah :
a. Depan
b.Samping
c. Belakang
d.         Busur

60 menit

Ceramah
Demonstrasi
Tugas




No
Kegiatan
Alokasi Waktu
Metode
3.
Penutup
-      Peserta didik dibariskan, dievaluasi kegiatan yang baru saja dipratekkan.
-      Informasi-informasi


20 menit

Ceramah
Diskusi


E.     Media / Alat
Buku :  Pendidikan Jasmani Kelas 1 SMA oleh : Agus Mukholid
Alat  :  Aula, pelindung badan

F.     Evaluasi
Penilaian dilakukan dengan tes perbuatan





Guru Mapel



____________________
NIP.


RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
Nama sekolah       :
Mata Pelajaran         :  Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan
Kelas/Semester         :  X / 1
Pertemuan Ke          :  ……………….……………….……………….
Alokasi Waktu         :  …..……………….……………….……………

A.    Kompetensi Dasar
2.1        Mempraktikkan latihan kekuatan, kecepatan, daya tahan, dan kelentukan untuk kebugaran jasmani dalam bentuk sederhana serta nilai tanggung jawab, disiplin dan percaya diri.
B.     Indikator
-          Melakukan berbagai bentuk latihan kekuatan
-          Melakukan berbagai bentuk latihan kelentukan
-          Melakukan brebagai bentuk latihan keseimbangan
C.    Materi Pokok
Latihan Kebugaran Jasmani
D.    Skenario Pembelajaran
No
Kegiatan
Alokasi Waktu
Metode
1.
Pendahuluan
Peserta didik dibariskan menjadi 4 saf, berdo’a bersama, diadakan presensi dan penjelasan materi secara singkat diteruskan dengan pemanasan.

10 menit

Ceramah
Demonstrasi
Tugas
2.
Inti
-      Peserta didik dibagi menjadi 3 kelompok.
Kelompok 1 : melakukan latihan kekuatan otot lengan dengan push up
a.       Melakukan latihan kekuatan otot
Perut dengan sip-up
b.      Melakukan latihan kekuatan otot
Punggung dengan back off
c.       Melatih otot kaki dengan squat jump
Kelompok 2 : melakukan latihan kekukatan dari anggota tubuh bagian atas menuju anggota bagian bawah.
Kelompok 3 : melakukan latihan keseimbangan
Setelah dirasa cukup, tiap kelompok bergantian melakukan latihan lainnya, sehingga ketiga kelompok latihan kekuatan, kelentukan dan keseimbangan

60 menit

Ceramah
Demonstrasi
Tugas
3.
Penutup
-      Peserta didik dibariskan, dievaluasi kegiatan yang telah dilaksanakan
-      Informasi-informasi

20 menit

Ceramah
Diskusi

E.     Media / Alat
Buku :  Pendidikan Jasmani dan Kesehatan oleh : Drs. Yanto Kusyanto
Alat  :  Aula, stop watch
F.     Evaluasi
Penilaian dilakukan dengan melalui pengamatan terhadap kegiatan yang dilakukan peserta didik.


Kepala MA PPMI Assalaam

Sigit Rahardja, S.Si
Sukoharjo, 01 Juni 2007
Guru Mapel

____________________
NIP.


RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
Nama sekolah       :
Mata Pelajaran         :  Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan
Kelas/Semester         :  X / 1
Pertemuan Ke          :  ……………….……………….……………….
Alokasi Waktu         :  …..……………….……………….……………

A.    Kompetensi Dasar
2.2        Mempraktikkan tes kebugaran jasmani serta nilai tanggung jawab, disiplin dan percaya diri.

B.     Indikator
-          Melakukan tes pengukuran kebugaran jasmani
-          Menerapkan ketelitian, kesabaran, keuletan dan kecermatan dalam pengolahan data
C.    Materi Pokok
Tes Kebugaran Jasmani
D.    Skenario Pembelajaran
No
Kegiatan
Alokasi Waktu
Metode
1.
Pendahuluan
Peserta didik dibariskan menjadi 4 saf, berdo’a bersama, diadakan presensi dan penjelasan materi yang akan dipraktekkan secara singkat dan dilanjutkan dengan pemanasan / warming up.

10 menit

Ceramah
Demonstrasi
Tugas
2.
Inti
-      Praktek tes dan pengukuran kebugaran jasmani adapun rangkaian tes kebugaran jasmani untuk usia 16 – 19 tahun (untuk siswa SMA) terdiri dari :
a.       Lari 60 meter
b.      Gantung angkat tubuh 60 detik untuk pria dan gantung siku tekuk untuk wanita.
c.       Baring duduk 60 detik
d.      Loncat tegak
e.       Lari 1200 meter untuk pria dan 1000 meter untuk wanita
-      Hasil dari rangkaian tes dicatat dan hasilnya yang masih berupa hasil kasar yang masih merupakan satuan ukuran yang berbeda perlu diganti dengan satuan ukuran yang sama, satuan ukuran pengganti ini adalah nilai. Nilai deroleh dari tabel yang sudah ditentukan. Setelah diubah menjadi nilai langkah berikutnya adalah menjumlahkan nilai-nilai kelima butir tes. Hasil penjumlahan menjadi dasar untuk menentukan mategori kebugaran jasmani peserta didik.

60 menit

Ceramah
Demonstrasi
Tugas
3.
Penutup
-      Peserta didik dibariskan, sambil mengumpulkan catatan hasil tes, kemudian dievaluasi kegiatan yang telah dilakukan/
-      Informasi-informasi

20 menit

Ceramah
Diskusi

E.     Media / Alat
Buku :  Pendidikan Jasmani kelas 1 SMA oleh : Agus Mukholid
Alat  :  Lapangan, stop watch, palang tunggal, peluit
F.     Evaluasi

Saturday, May 28, 2011

manajemen olahraga


                                            Kata pengantar





Puji syukur kehadirat illahi robbi yang senantiasa melimpahkan kepada umatnya rahman dan rahim-Nya sehingga tim penulis dapat menyelesaikan makalah yang  berjudul “peran Strategi organisasi dalam   dan peningkatan  prestasi olahraga”

Dalam kesempatan ini tidak lupa kami tim penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada pihak yang telah mendukung menyelesaikan karya ilmia ini:
  1. dosen pengasuh  mata kuliah  manajemen olahraga ,yang diasuh  oleh bapak hendrik
  2. petugas perpustakaan FKIP PGRI yang telah memberikan kemudahan kepada penulis mengumpulkan data
  3. dan yang teakhir  adalah teman-teman kelas 4j yang telah memberikan support

dengan rendah hati ,tim penulis  adanya kendala ,keterbatasan  dan kemampuan  bahwa tim penulis ini jauh dari sempurna ,maka dengan itu tim penulis  mengharap  segala kritik  dan saran yang sipatnya membangun  demi kesempurnaan  krya tulis ini.






                                                                                                                 Palembang mei 29





                                                                                                                          Tim penulis

Thursday, May 26, 2011

manajemen olahraga



                                                                                PEMBAHASAN
A.      Pengertian Psikologi Olahraga
Psikologi adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia dalam hubungan dengan lingkungannya, mulai dari perilaku sederhana sampai yang kompleks. Perilaku manusia ada yang disadari, namun ada pula yang tidak disadari, dan perilaku yang ditampilkan seseorang dapat bersumber dari luar ataupun dari dalam dirinya sendiri.
Ilmu psikologi diterapkan pula ke dalam bidang olahraga yang lalu dikenal sebagai psikologi olahraga. Penerapan psikologi ke dalam bidang olahraga ini adalah untuk membantu agar bakat olahraga yang ada dalam diri seseorang dapat dikembangkan sebaik-baiknya tanpa adanya hambatan dan factor-faktor yang ada dalam kepribadiannya. Dengan kata lain, tujuan umum dari psikologi olahraga adalah untuk membantu seseorang agar dapat menampilkan prestasi optimal, yang lebih baik dari sebelumnya.
2. Mengapa Psikologi Olahraga Diperlukan dalam Olahraga?
Meningkatnya stres dalam pertandingan dapat menyebabkan atlet bereaksi secara negatif, baik dalam hal fisik maupun psikis, sehingga kemampuan olahraganya menurun. Mereka dapat menjadi tegang. denyut nadi meningkat, berkeringat dingin, cemas akan hasil pertandingannya, dan mereka merasakan sulit berkonsentrasi. Keadaan ini seringkali menyebabkan para atlet tidak dapat menampilkan permainan terbaiknya. Para pelatih pun menaruh minat terhadap bidang psikologi olahraga, khususnya dalam pengendalian stres.
Psikologi olahraga juga diperlukan agar atlet berpikir mengenai. mengapa mereka berolahraga dan apa yang ingin mereka capai? Sekali tujuannya diketahui, latihan-latihan ketrampilan psikologis dapat menolong tercapainya tujuan tersebut.3. Bagaimanakah Psikologi Olahraga Dapat Membantu Atlet Agar Memiliki Mental yang Tangguh?
Mental yang tegar, sama halnya dengan teknik dan fisik, akan didapat melalui latihan yang terencana, teratur, dan sistematis. Dalam membina aspek psikis atau mental atlet, pertama-tama perlu disadari bahwa setiap atlet harus dipandang secara individual, yang satu berbeda dengan yang lainnya. Untuk membantu mengenal profil setiap atlet, dapat dilakukan pemeriksaan psikologis, yang biasa dikenal dengan “psikotes”, dengan bantuan psikometri.
Profil psikologis atlet biasanya berupa gambaran kepnbadian secara umum, potensi intelektual. dan fungsi daya pikimya yang dihubungkan dengan olahraga. Profil atlet pada umumnya tidak berubah banyak dari waktu ke waktu. Oleh karenanya, orang sering beranggapan bahwa calon atlet berbakat dapat ditelusun semata-mata dari profil psikologisnya. Anggapan semacam ini keliru, karena gambaran psikologis seseorang tidak menjamin keberhasilan atau kegagalannya dalam prestasi olahraga, karena banyak sekali faktor lain yang mempengaruhinya. Beberapa aspek psikologis dapat diperbaiki melalui latihan ketrampilan psikologis (diuraikan kemudian) yang terencana dan sistematis, yang pelaksanaannya sangat tergantung dari komitmen si atlet terhadap program tersebut.
B. Aspek-aspek Psikologis yang berperan dalam OlahragaPengaruh faktor psikologis pada atlet akan terlihat dengan jelas pada saat atlet tersebut bertanding. Berikut ini akan diuraikan beberapa masalah psikologis yang paling sering timbul di kalangan olahraga, khususnya dalam kaitannya dengan pertandingan dan masa latihan.
1. Berpikir Positif
Berpikir positif dimaksudkan sebagai cara berpikir yang mengarahkan sesuatu ke arah positif, melihat segi baiknya. Hal ini perlu dibiasakan bukan saja oleh atlet, tetapi terlebih-lebih bagi pelatih yang melatihnya. Dengan membiasakan diri berpikir positif, maka akan berpengaruh sangat baik untuk menumbuhkan rasa percaya diri, meningkatkan motivasi, dan menjalin kerja sama dengan berbagai pihak. Berpikir positif merupakan modal utama untuk dapat memiliki ketrampilan psikologis atau mental yang tangguh.
Pikiran positif akan diikuti dengan tindakan dan perkataan positif pula, karena pikiran akan menuntun tindakan. Sebagai contoh, jika dalam bermain bulutangkis terlintas pikiran negatif seperti, “takut salah, takut out, takut bola pukulannya tanggung” dan sebagainya, maka kemungkinan terjadi akan lebih besar. Karena itu cobalah dan biasakan untuk selalu berpikir positif, hindari yang negatif. Demikian juga dalam memberikan instruksi kepada atlet. Daripada mengatakan: “Kamu ini susah sekali sih diajarnya…, salah terus…! Awas, jangan berhenti sebelum bisa!”, lebih baik mengatakannya dengan cara yang positif walaupun maksudnya sama: “Ayo, coba lagi pelan-pelan, kamu pasti bisa melakukannya. Perhatikan, tangannya, begini… langkahnya, ke sini… kena bolanya, di sini… ayo dicoba”.
Sebagai pelatih, tunjukkan Anda percaya bahwa atlet Anda memiliki peluang untuk dapat berprestasi baik. Cemooh, celaan, dan kritik yang pedas yang tidak pada tempatnya, justru akan membuat atlet bereaksi negatif dan berakibat akan menurunkan motivasi yang diikuti dengan penurunan prestasi.
2. Penetapan Sasaran
Penetapan sasaran (goal setting) merupakan dasar dan latihan mental. Pelatih perlu membantu setiap atletnya untuk menetapkan sasaran, baik sasaran dalam latihan maupun dalam pertandingan. Sasaran tersebut mulai dan sasaran jangka panjang, menengah, sampai sasaran jangka pendek yang lebih spesifik.
Untuk menetapkan sasaran, ada tiga syarat yang perlu diingat agar sasaran itu bermanfaat, yaitu:
a. Sasaran harus menantang.
Sasaran yang ditentukan harus sedemikan rupa, sehingga atlet merasa tertantang untuk dapat mencapai sasaran tersebut.
b. Sasaran harus dapat dicapai.
Buatlah sasaran itu cukup tinggi, akan tetapi tidak terlalu tinggi. Atlet harus merasa bahwa sasaran yang ditetapkan itu dapat tercapai jika ia berusaha keras. Jika sasaran terlalu tinggi, sehingga atlet merasa mustahil dapat mencapainya, maka motivasi berlatihnya akan menurun. Demikian pula, jika sasaran tersebut terlalu mudah untuk dapat dicapai, maka atlet merasa tidak perlu berlatih keras karena ia akan dapat mencapai sasaran tersebut.
c. Sasaran harus meningkat.
Mulai dari sasaran yang relatif rendah, kemudian buatlah sasaran tersebut makin lama makin tinggi, semakin sulit tercapainya jika atlet tidak berlatih keras. Dalam setiap latihanpun biasakanlah selalu ada sasaran yang harus dicapai. Dan target yang bersifat umum, lalu uraikan lagi secara lebih spesifik. Dan target untuk suatu kompetisi jangka panjang, uraikan menjadi target atau sasaran jangka pendek, sampai target untuk setiap latihan. Sasaran yang ditetapkan tersebut, hendaknya juga ditetapkan kapan harus tercapainya, dan bagaimana pula cara mengukumya atau apa ukurannya secara objektif. Sedapat mungkin, buatkan grafik pencapaian sasaran tersebut agar terlihat jelas arah dan peningkatannya.
3. Motivasi
Motivasi dapat dilihat sebagai suatu proses dalam diri seseorang untuk melakukan sesuatu sebagai usaha dalam mencapai tujuan tertentu. Motivasi yang kuat menunjukkan bahwa dalam diri orang tersebut tertanam dorongan kuat untuk dapat melakukan sesuatu.
Ditinjau dari fungsi diri seseorang, motivasi dapat dibedakan antara motivasi yang berasal dan luar (ekstrinsik) dan motivasi yang berasal dari dalam diri sendiri (intrinsik). Dengan pendekatan psikologis diharapkan atlet dalam setiap penampilannya dapat memperlihatkan motivasi yang kuat untuk bermain sebaik-baiknya, sehingga dapat memenangkan pertandingan.
Motivasi yang baik tidak mendasarkan dorongannya pada faktor ekstrinsik seperti hadiah atau penghargaan dalam bentuk materi. Akan tetapi motivasi yang baik, kuat, dan lebih lama menetap adalah faktor intrinsik yang mendasarkan pada keinginan pribadi yang lebih mengutamakan prestasi untuk mencapai kepuasan diri daripada hal-hal yang material.
Untuk mengembangkan motivasi intrinsik ini, peran pelatih dan orangtua sangat besar. Pelatih perlu melakukan pendekatan dan menumbuhkan kepercayaan diri pada atlet secara positif. Ajarkan atlet untuk dapat menghargai diri sendiri, oleh karena itu, pelatih harus memperlihatkan bahwa ia menghargai hasil kerja atlet secara konsekuen.
4. Emosi
Faktor-faktor emosi dalam diri atlet menyangkut sikap dan perasaan atlet secara pribadi terhadap diri sendiri, pelatih maupun hal-hal lain di sekelilingnya. Bentuk-bentuk emosi dikenal sebagai perasaan seperti senang, sedih, marah, cemas, takut, dan sebagainya. Bentuk-bentuk emosi tersebut terdapat pada setiap orang. Akan tetapi yang perlu diperhatikan di sini adalah bagaimana kita mengendalikan emosi tersebut agar tidak merugikan diri sendiri.
Pengendalian emosi dalam pertandingan olahraga seringkali menjadi faktor penentu kemenangan. Para pelatih harus mengetahui dengan jelas bagaimana gejolak emosi atlet asuhannya, bukan saja dalam pertandingan tetapi juga dalam latihan dan kehidupan sehari-hari. Pelatih perlu tahu kapan dan hal apa saja yang dapat membuat atletnya marah, senang, sedih, takut, dan sebagainya. Dengan demikian pelatih perlu juga mencari data-data untuk mengendalikan emosi para atlet asuhannya. yang tentu saja akan berbeda antara atlet yang satu dengan atlet lainnya.
Gejolak emosi dapat mengganggu keseimbangan psikofisiologis seperti gemetar, sakit perut, kejang otot, dan sebagainya. Dengan terganggunya keseimbangan fisiologis maka konsentrasi pun akan terganggu, sehingga atlet tidak dapat tampil maksimal. Seringkali seorang atlet mengalami ketegangan yang memuncak hanya beberapa saat sebelum pertandingan dimulai. Demikian hebatnya ketegangan tersebut sampai ia tidak dapat melakukan awalan dengan baik. Apalagi jika lawannya dapat menekan dan penonton pun tidak berpihak padanya, maka dapat dibayangkan atlet tersebut tidak akan dapat bermain baik. Konsentrasinya akan buyar, strategi yang sudah disiapkan tidak dapat dijalankan, bahkan ia tidak tahu harus berbuat apa.
Disinilah perlunya dipelajari cara-cara mengatasi ketegangan (stress mana- gement). Sebelum pelatih mencoba mengatasi ketegangan atletnya. terlebih dulu harus diketahui sumber-sumber ketegangan tersebut. Untuk mengetahuinya, diperlukan adanya komunikasi yang baik antara pelatih dengan atlet. Berikut ini dijelaskan secara terpisah mengenai aspek-aspek yang berkaitan dengan emosi.
5. Kecemasan dan Ketegangan
Kecemasan biasanya berhubungan dengan perasaan takut akan kehilangan sesuatu, kegagalan, rasa salah, takut mengecewakan orang lain, dan perasaan tidak enak lainnya. Kecemasan-kecemasan tersebut membuat atlet menjadi tegang, sehingga bila ia terjun ke dalam pertandingan maka dapat dipastikan penampilannya tidak akan optimal. Untuk itu, telah banyak diketahui berbagai teknik untuk mengatasi kecemasan dan ketegangan yang penggunaannya tergantung dari macam kecemasannya.
Sebagai usaha untuk dapat mengatasi ketegangan dan kecemasan, khususnya dalam menghadapi pertandingan, lakukanlah beberapa teknik berikut ini :
a. Identifikasikan dan temukan sumber utama dan permasalahan yang menimbulkan kecemasan.
b. Lakukan latihan simulasi, yaitu latihan di bawah kondisi seperti dalam pertandingan sesungguhnya.
c. Usahakan untuk mengingat, memikirkan dan merasakan kembali saat-saat ketika mencapai penampilan paling baik atau paling mengesankan.
d. Lakukan latihan relaksasi progresif, yaitu melakukan peregangan alau pengendoran otot-otot tertentu secara sistematis dalam waktu tertentu.
e. Lakukan latihan otogenik, yaitu bentuk latihan relaksasi yang secara sistematis memikirkan dan merasakan bagian-bagian tubuh sebagai hangat dan berat.
f. Lakukan latihan pernapasan dengan bernapas melalui mulut dan hidung serta secara sadar bernapas dengan menggunakan diafragma.
g. Dengarkan musik (untuk mengalihkan perhatian).
h. Berbincang-bincang, berada dalam situasi sosial (untuk mengalihkan perhatian).
i. Membuat pernyataan-pernyataan positif terhadap diri sendiri untuk melakukan sesuatu yang diperlukan saat itu.
j. Lain-lain yang dapat mengurangi ketegangan.
6. Kepercayaan Diri
Dalam olahraga, kepercayaan diri sudah pasti menjadi salah satu faktor penentu suksesnya seorang atlet. Masalah kurang atau hilangnya rasa percaya diri terhadap kemampuan diri sendiri akan mengakibatkan atlet tampil di bawah kemampuannya. Karena itu sesungguhnya atlet tidak perlu merasa ragu akan kemampuannya, sepanjang ia telah berlatih secara sungguh-sungguh dan memiliki pengalaman bertanding yang memadai.
Peran pelatih dalam menumbuhkan rasa percaya diri atletnya sangat besar. Syarat untuk untuk membangun kepercayaan diri adalah sikap positif. Beritahu pemain di mana letak kekuatan dan kelemahannya masing-masing. Buatkan program latihan untuk setiap atlet dan bantu mereka untuk memasang target sesuai dengan kemampuannya agar target dapat tercapai jika latihan dilakukan dengan usaha keras. Berikan kritik membangun dalam melakukan penilaian terhadap atlet. Ingat, kritik negatif bahkan akan mengurangi rasa percaya diri.
Jika pemain telah bekerja keras dan bermain bagus (walaupun kalah), tunjukkan penghargaan Anda sebagai pelatih. Jika pemain mengalami kekalahan (apalagi tidak dengan bermain baik), hadapkan ia pada kenyataan objektif. Artinya, beritahukan mana yang telah dilakukannya secara benar dan mana yang salah, serta tunjukkan bagaimana seharusnya. Menemui pemain yang baru saja mengalami kekalahan harus dilakukan sesegera mungkin dibandingkan dengan menemui pemain yang baru saja mencetak kemenangan.
7. Komunikasi
Komunikasi yang dimaksud adalah komunikasi dua arah, khususnya antara atlet dengan pelatih. Masalah yang sering timbul dalam hal kurang terjalinnya komunikasi yang baik antara pelatih dengan atletnya adalah timbulnya salah pengertian yang menyebabkan atlet merasa diperlakukan tidak adil, sehingga tidak mau bersikap terbuka terhadap pelatih. Akibat lebih jauh adalah berkurangnya kepercayaan atlet terhadap pelatih.
Untuk menghindari terjadinya hambatan komunikasi, pelatih perlu menyesuaikan teknik-teknik komunikasi dengan para atlet seraya memperhatikan asas individual. Keterbukaan pelatih dalam hal pogram latihan akan membantu terjalinnya komunikasi yang baik, asalkan dilakukan secara objektif dan konsekuen. Atlet perlu diberi pengertian tentang tujuan program latihan dan fungsinya bagi tiap-tiap individu.
Sebelum program latihan dijalankan, perlu dijelaskan dan dibuat peraturan mengenai tata tertib latihan dan aturan main lainnya termasuk sanksi yang clikenakan jika terjadi pelanggaran terhadap peraturan yang telah dibuat tersebut. Jadi, hindarilah untuk memberlakukan suatu sanksi yang belum pernah diberitahukan sebelumnya. Misalnya, seorang atlet minum Coca Cola dalam latihan, lalu dihukum oleh pelatih. Atlet tersebut bingung dan bertanya-tanya mengapa ia dihukum karena ia tidak pernah dijelaskan sebelumnya oleh pelatih bahwa dalam latihan dilarang minum minuman bersoda.
Demikian pula dalam hal pelaksanaanya. Peraturan yang sudah dibuat, haruslah dijalankan secara konsekuen. Artinya, jika seorang atlet dihukum karena melanggar peraturan tertentu, maka jika ada atlet lain yang melanggar peraturan yang sama ia pun harus mendapat hukuman yang sama. Demikian pula jika atlet yang sama melakukannya lagi di kemudian hari.
Pelatih pun perlu bersikap objektif dan berpikir positif. Bersikap objektif maksudnya adalah bersikap sesuai dengan kenyataan atau fakta apa adanya tanpa menyangkutpautkan dengan hal lain. Jika pelatih marah terhadap atlet karena misalnya si atlet datang terlambat dalam latihan, maka hukumlah atlet itu hanya atas keterlambatannya, jangan dihubungkan dengan hal-hal lain (ingat, hukuman tersebut harus sudah tertera dalam tata tertib latihan).
8. Konsentrasi
Konsentrasi merupakan suatu keadaan di mana kesadaran seseorang tertuju kepada suatu obyek tententu dalam waktu tertentu. Makin baik konsentrasi seseorang, maka makin lama ia dapat melakukan konsentrasi. Dalam olahraga, konsentrasi sangat penting peranannya. Dengan berkurangnya atau terganggunya konsentrasi atlet pada saat latihan, apalagi pertandingan, maka akan timbul berbagai masalah.
Dalam olahraga, masalah yang paling sering timbul akibat terganggunya konsentrasi adalah berkurangnya akurasi lemparan, pukulan, tendangan & tembakan sehingga tidak mengenai sasaran. Akibat lebih lanjut jika akurasi berkurang adalah strategi yang sudah dipersiapkan menjadi tidak jalan, sehingga atlet akhimya kebingungan, tidak tahu harus bermain bagaimana dan pasti kepercayan dirinya pun akan berkurang. Untuk menghindari keadaan tersebut, perlu dilakukan latihan berkonsentrasi.
9. Evaluasi Diri
Evaluasi diri dimaksudkan sebagai usaha atlet untuk mengenali keadaan yang terjadi pada dirinya sendiri. Hal ini perlu dilakukan agar atlet dapat mengetahui kelemahan dan kelebihan dirinya pada saat yang lalu maupun saat ini. Dengan bekal pengetahuan akan keadaan dirinya ini maka pemain dapat memasang target latihan maupun target pertandingan dan cara mengukurnya. Kegunaan lainnya adalah untuk mengevaluasi hal-hal yang telah dilakukannya, sehingga memungkinkan untuk mengulangi penampilan terbaik dan mencegah terulangnya penampilan buruk.
Oleh karena itu, pelatih perlu menginstruksikan atletnya untuk memiliki buku catatan harian mengenai latihan dan pertandingan. Minta pemain untuk menuliskan kelemahan dan kelebihan diri sendiri, baik dalam segi fisik, teknik, maupun mental. Kemudian koreksilah jika menurut Anda sebagai pelatih ada hal-hal yang tidak sesuai atau ada yang kurang.
Biasakan agar atlet mengisi buku tersebut secara teratur. Ajak atlet untuk menuliskan di dalam bukunya hal-hal yang intinya sebagai berikut:
- Target jangka panjang, menengah, dan jangka pendek dalam latihan dan pertandingan.
- Sesuatu yang dilakukan dan dipikirkan sebelum latihan atau pertandingan.
- Suatu gerakan atau penampilan mengesankan.
- Catatan mengenai kelemahan dan kelebihan lawan yang akan dihadapi dan strategi menghadapinya.
- Hasil dan jalannya pertandingan.
- Hal yang mengganggu emosi atau membuat penampilan jadi buruk.
- Penghargaan yang didapat atas suatu keberhasilan.
Pastikan bahwa buku tersebut diisi secara teratur oleh setiap atlet. Namun perlu diingat bahwa pelatih jangan terlalu memaksa untuk membaca buku harian atlet. Biarkan itu menjadi bagian dan rahasia pribadi mereka. Yang perlu dipantau oleh pelatih adalah bahwa atlet mempunyai bahan bagi dirinya sendiri untuk melakukan evaluasi.
C. Persiapan PertandinganSetelah atlet dilatih baik fisik, teknik, strategi, maupun mentalnya dengan program latihan yang tepat, maka untuk menguji hasil latihannya adalah dengan lterjun ke dalam pertandingan. Tentunya diharapkan bahwa setiap pemain akan dapat menampilkan seluruh kemampuannya yang didapat dan latihan. Namun acapkali pemain tampil di bawah form, artinya ia tidak dapat menampilkan seluruh kemampuan yang dimilikinya pada saat pertandingan.
Untuk mengatasi hal seperti di atas, perlu diciptakan situasi yang mendukung yang tercapainya prestasi optimal dan dilakukan perwapan mental untuk menghadapi suatu pertandingan agar si atlet dapat menampilkan seluruh kemampuannya, sehingga tercapailah prestasi puncak.
Ada empat tahap penting dalam persiapan menuju pertandingan, yaitu
(1). Sebelum hari pertandingan
(2). Pada hari pertandingan
(3). Saat pertandingan
(4). Setelah hari pertandingan.
Berikut uraiannya dalam contoh persiapan pertandingan bulutangkis:
1. Sebelum Hari Pertandingan
a. Kumpulkan data mengenai kekuatan dan kelemahan lawan. Jika memungkin- kan, putarlah rekaman pertandingannya. Kemudian susunlah strategi untuk menghadapinya. Untuk pemain ganda, diskusikan strategi tersebut dengan pasangannya.
b. Pantau kemajuan atlet, baik fisik maupun mentalnya dengan memperhatikan bagaimana tingkat konsentrasinya, bagaimana irama, timing, power, dan kelancaran menjalankan ketrampilannya serta sikapnya terhadap latihan secara umum.
c. Pantau tingkat kecemasan atlet dengan melihat ekspresi wajahnya apakah cerah atau murung: apakah sinar matanya letih atau segar dan awas. Juga perhatikan suasana hatinya, bagaimana kualitas tidur dan makannya, apakah ia mengalami faktor-faktor psikosomatis seperti sakit perut, nyeri otot, sesak nafas, demam, batuk, keringat dingin, dan sebagainya.
d. Pada saat tidak latihan, pastikan bahwa atlet tidak “hidup dan berpikir” mengenai pertandingannya 24 jam sehan. Berikan aktivitas yang menyenangkan bagi dirinya yang dapat memberikan suasana gembira, sehingga ia bisa mengalihkan pikirannya sejenak dari pertandingan.
e. Satu hari menjelang pertandingan, biasanya cukup latihan ringan saja dan tidak perlu berada di lapangan terlalu lama. Pada malam hari sebelum bertanding, tidurlah pada saat yang tepat, tidak perlu tidur terlalu cepat. Sebelum tidur, lakukan latihan relaksasi dan visualisasi. Jika pertandingan besok dilakukan pagi atau siang hari, siapkan alat-alat perperlengkapan pertandingan, termasuk baju ganti dan perlengkapan cadangan malam ini juga agar esok tidak terburu-buru. Pastikan semua dalam keadaan baik.
2. Pada Hari Pertandingan
a. Bangun tidur pada saat yang tepat, malamnya harus tidur cukup dan tidak berlebihan. Kemudian lakukan aktivitas rutin kebiasaan sehari-hari, seperti sembahyang, berdoa, stretching, sarapan (perhatikan kapan harus makan dan apa yang harus dimakan), latihan relaksasi dan visualisasi, memeriksa kembali perlengkapan pertandingan termasuk cadangannya. Mulailah hari ini dengan gembira, optimis, dan berpikir positif.
b. Berangkatlah ke tempat pertandingan pada saat yang tepat. Perhitungkan jarak ke tempat pertandingan, bagaimana mencapainya, kemacetannya dan sebagainya. Tidak perlu berangkat terlalu cepat, namun jangan sampai terlambat, sehingga tidak ada waktu untuk istirahat, penyesuaian dan pemanasan.
c. Di tempat pertandingan pelatih perlu mengenali atlet mana yang berada didekat teman-temannya dan mana yang lebih suka menyendiri. Pastikan di lapangan mana atlet yang akan bertanding, jangan lupa melapor panitia. Untuk pertandingan pertama, pastikan atlet sudah hapal dimana letak ruang ganti, WC, ruang kesehatan, tes doping, tempat ganti senar, dan sebagainya.
d. Sambil melakukan pemanasan, atlet hendaknya meningkatkan level `semangat’ dlan tetap berpikir positif. Pelatih dapat mengingatkan strategi yang akan diterapkan secara sekilas. Lakukan stroke dengan penuh konsentrasi yang kemudian dapat dilanjutkan dengan’visualisasi clan relaksasi.
3. Saat Bertanding
Saat bertanding tiba, bukan waktunya lagi untuk memikirkan teknik memukul atau bagaimana harus melangkah. Itu semua sudah dilatih dalam latihan dan sudah dihayati dalam visualisasi. Sekarang saatnya tinggal mengulang-ulang kejadian yang sudah divisualisasikan dan melakukannya sesuai dengan situasi saat ini. Sekarang adalah saatnya melakukan konsentrasi penuh hanya pada bola dan jalannya pertandingan.
Anjurkan atlet untuk:
a. Memantau clan menyesuaikan tingkat kecemasan, lakukan relaksasi.
b. Pusatkan perhatian semata-mata hanya terhadap permainan yang sedang dijalani. Kesalahan yang baru atau pernah terjadi, clan yang mungkin terjadi jangan dihiraukan.
c. Berpikir positif dan optimis, jangan biarkan pikiran-pikiran negatif.
d. Jangan terlalu banyak menganalisa.
e. Bermainlah dengan irama sendiri, jangan terbawa irama lawan.
f. Menjalankan strategi yang telah disiapkan. Jangan diubah jika strategi itu berjalan. Lakukan evaluasi singkat, jika strategi tidak jalan, lakukan penyesuaian dengan alternatif strategi yang sudah dipersiapkan.
g. Hindari hal-hal negatif seperti, menyalahkan diri sendiri secara berlebihan, berbicara terhadap diri sendiri berlebihan, berpikir negatif, meragukan kemampuan clan menyerah sebelum pertandingan selesai.
h. Jika bermain bagus, jangan bertanya mengapa clan mengganti apapun; biarkan berjalan demikian. Jangan mengendor jika sedang leading (memimpin pertandingan), clan tidak perlu kasihan jika lawan mendapat angka nol.
4. Setelah Hari Pertandingan
a. Mintalah atlet mencatat hal-hal posisitf maupun negatif yang dirasa berpengaruh terhadap penampilannya dalam pertandingan tadi. Bukan hanya yang bersifat teknik, taktik, clan strategi, tetapi juga yang bersifat mental, bahkan hal-hal kecil lainnya. Catat hasil tersebut dalam buku evaluasi si atlet.
b. Evaluasi penampilan dalam pertandingan tadi. Apakah mencapai sasaran?
c. Putuskan apakah perlu diadakan penyesuaian terhadap program latihan.
d. Pusatkan perhatian terhadap aspek-aspek positif dari penampilan dalam pertandingan.
D. Pelatih Sebagai Pembina Mental AtlitPelatih dalam olahraga dapat mempunyai fungsi sebagai pembuat atau pelaksana program latihan, sebagai motivator, konselor, evaluator dan yang bertanggung jawab terhadap segala hal yang berhubungan dengan kepelatihan tersebut. Sebagai manusia biasa, pelatih sama halnya dengan atlet, mempunyai kepribadian yang unik yang berbeda antara satu dengan lainnya. Setiap pelatih memiliki kelebihan dan kekurangan, karena itu tidak ada pelatih yang murni ideal atau sempura.
Dalam mengisi peran sebagai pelatih, seseorang harus melibatkan diri secara total dengan atlet asuhannya. Artinya, seorang pelatih bukan hanya melulu mengurusi masalah atau hal-hal yang berhubungan dengan olahraganya saja, tetapi pelatih juga harus dapat berperan sebagai teman, guru. orangtua, konselor, bahkan psikolog bagi atlet asuhannya. Dengan demikian dapat diharapkan bahwa atlet sebagai seorang yang ingin mengembangkan prestasi, akan mempunyai kepercayaan penuh terhadap pelatihnya.
Keterlibatan yang mendalam antara pelatih dengan atlet asuhannya harus dilandasi oleh adanya empati dan pelatih terhadap atletnya tersebut.Empati ini merupakan kemampuan pelatih untuk dapat menghayati perasaan atau keadaan atletnya, yang berarti pelatih dapat mengerti atletnya secara total tanpa ia sendiri kehilangan identitas pnbadinya. Untuk mengerti keadaan atlet dapat diperoleh dengan mengetahui atau mengenal hal-hal penting yang ada pada atlet yang bersangkutan. Pengetahuan sekadarnya saia tidak cukup bagi pelatih untuk mengetahui keadaan psikologi atletnya. Dasar dan sikap mau memahami keadaan psikologi atletnya adalah pengertian pelatih bahwa setiap orang memiliki sifat-sifat khusus yang memerlukan penanganan khusus pula dalam hubungan dengan pengembangan potensinya.
Kepribadian seorang pelatih dapat pula membentuk kepribadian atlet yang menjadi asuhannya. Hal terpenting yang harus ditanamkan pelatih kepada atletnya adalah bahwa atlet percaya pada pelatih bahwa apa yang diprogramkan dan dilakukan oleh pelatih adalah untuk kebaikan dan kemajuan si atlet itu sendiri. Untuk bisa mendapatkan kepercayaan tersebut dari atlet, pelatih tidak cukup hanya memintanya, tetapi harus membuktikannya melalui ucapan, perbuatan, dan ketulusan hati. Sekali atlet mempercayai pelatih maka seberat apapun program yang dibuat pelatih akan dijalankan oleh si atlet dengan sungguh-sungguh.








BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Anak adalah titipan tuhan yang harus kita jaga dan kita didik agar ia menjadi manusia yang berguna dan tidak menyusahkan siapa saja. Secara umum anak mempunyai hak dan kesempatan untuk berkembang sesuai potensinya terutama dalam bidang pendidikan. Namun seringkali kita melihat perkembangan prestasi anak yang ternyata tergolong memiliki bakat istimewa.
Setiap individu hendaknya mendapat kesempatan dan pelayanan untuk berkembang secara optimal sesuai dengan kemampuan, kecerdasan, bakat, minatnya, latar belakang dan lingkungan fisik serta sosial masing-masing siswa maka kemajuan belajar siswa yang setingkat (sekelas) mungkin tidak sama.
Setiap anak dipercaya memiliki bakat sendiri-sendiri. Namun bakat anak ini tidak bisa langsung terlihat begitu saja. Karenanya orang tua harus mengenali dan memahami bakat yang dimiliki anaknya. Dengan memahami bakat anak, akan lebih mudah dan terarah dalam mengembangkannya.

Friday, May 20, 2011

penyimpangan dan kekerasan dalam olahraga


                                                               NAMA:
                                                                                          NIM    :   2009151
                                                                                           KELAS:4J
                                            BAB III
PENYIMPANGAN DAN KEKERASAN DALAM OLAHRAGA

A.DIMENSI SOSIAL BUDAYA DALAM PEMBINAAN OLAHRAGA
Perilaku pembinaan olahraga dipengaruhi oleh system kepercayaan dan nilai panutan
a) interaksi  nilai budaya  dan olahraga
 kajian sosiologis :perkembangan olahraga (nasional),kemajuan atau kemundurannya                                                                               berpangkal dari kegiatan yang berlangsung dalam kontek social budaya,perubahan sosial ,namun juga tidak terlepas dari perubahan cara historis
b) perubahan orientasi
trend baru adalah melahirkan kelas –kelas social dari performance melahirkan cita rasa aestetika atau symbol eksklusif atau keperkasaan
Ada pun faktor sosial yang membentuk struktur dasar dari dunia kaum muda dalam  olahraga
1.konflik pendidikan jasmani antara konsef dan konteks
2. organisasi induk olahraga mengalami kelemahan kapabilitas manajemen
3. kelangkaan sumberdaya
c) strategi pembinaan
Proses pembinaan olahraga pada hakikatnya berlansung dalam lingkungan social,beserta  nilai –nilai yang tumbuh dan bekembang didalamnya
d) proses sosialisasi
1.agen sosial
a) proses untuk memperlakukan anak pria  dan wanita dalam cara yang berbeda
b) pengaruh langsung dari sikap perlakuaan orang tua termaksuk masyarakat luas
2. situasi social
paktor lain  yang berpengaruh terhadap partisipasi falam olahraga dan keterampilan berolahraga
3. karakterristik personal
Bagaimana persepsi anak tentang kemampuan ya dalam olahraga

B) OLAHRAGA DAN KELOMPOK
organisasi dalam olahraga terdiri dari empat tingkatan
1. tinkatan primer
2. tinkat tehnikel
3. tinkat menejerial
4. tingkat badan hukum

C) INTERAKSI DAN PEMERINTAH,SWASTA DAN MASYARAKAT DALAM PEMBINAAN OLAHRAGA NASIONAL
a) efektivitas pembinaan
b) arah pembangunaan ke olahragaan nasional
c) masalah dan tantangan dalam membinaan
d) peranaan pemerintah swasta dan masyrakat
e) swasta beperan sebagai sponsorship
C) MEDIA DAN KERAKAN OLIMPYADE
a) proses sosialisasi
b) mega trend
c) peranan media dan olahraga


          

             Penyimpangan Dalam Kekerasan Dalam Berolahraga
penyimpangan dan kekerasaan dalam olahraga sangat mempengaruhi kehidupan kita karena kekerasan dalam olahraga dapat mempengaruhi gagasan dan ide kita tenteng ketidak adilan antara kelas ,ras dan etnisitas kerja dan prestasi dalam berolahraga
olahraga sangat berkaitan     dengan hubungan sosial dan  masyarakat
olahraga berkaiytan dengan ruang-ruang kehdupan sosial didalam masyrakat (sepert pendidikan ,politik ,ekonomi,media,dan agama